Menjadi
seorang guru adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Menjadi seorang guru
harus sesuai dari hati dan sesuai panggilan. Banyak guru-guru sekarang yang
termasuk gagal dalam mengajari murid-muridnya meskipun pengetahuan yang mereka
miliki sangat tinggi, tetapi karena hati mereka kurang sungguh-sungguh dalam
mengajar maka pengetahuan yang mereka miliki itu hanya sia-sia dalam mengajar.
Seringkali kita tidak mengetahui
seperti apakah panggilan Tuhan itu dan bagaimana panggilan Tuhan kepada kita.
Terkadang kehendak kita dengan kehendak Tuhan itu berbeda. Apa yang kita
inginkan, terkadang Tuhan tidak menginginkan itu untuk kita. Apa yang kita
tidak inginkan, tetapi itulah yang Tuhan inginkan untuk kita. Untuk itu
diperlukan pergumulan yang berat untuk bisa mengetahui rencana, kehendak dan
panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Begitu dengan saya yang awalnya sangat
bingung apakah ini panggilan saya untuk menjadi guru atau bukan.
Di dalam hidup saya, saya tidak
pernah berpikir untuk menjadi seorang guru secara khusus menjadi seorang guru
SD. Bahkan saya menganggap menjadi seorang guru itu adalah pekerjaan yang berat
dan gaji yang tidak seberapa. Dan terlebih lagi saya tidak suka dengan
anak-anak kecil. Tetapi Tuhan mempunyai kehendak lain buat saya. Tuhan
menginginkan saya menjadi seorang guru SD.
Awal Tuhan menginginkan dan
memproses saya untuk menjadi seorang guru itu ketika pada saat saya ikut proses
masuk di Universitas Kristen Petra Surabaya. Pada saat itu saya sedang belajar
di kelas saya, di kelas XII IPS 3. Tiba-tiba ada anak dari kelas XII IPS 1
lewat di depan kelas saya dan mereka memberitahukan jika ada tes masuk Universitas
Kristen Petra, tetapi mereka tidak mengatakan jika itu tes masuk di prodi PGSD.
Saya sangat tertarik masuk di Universitas Kristen Petra karena saya ingin masuk
jurusan desain grafis dan di Universitas Kristen Petra visi dan misinya itu
semua berdasarkan pada Firman Tuhan. Saya sangat tertarik hal-hal yang berhubungan
dengan Firman Tuhan. Akhirnya saya minta izin ke wali kelas saya dan pergi ke
tempat tes bersama teman-teman saya. Sampai disana saya bingung mengapa semuanya
yang ikut tes adalah perempuan. Saya bertanya-tanya ternyata itu adalah tes
masuk di prodi PGSD. Prodi PGSD memang banyak ditempati oleh perempuan. Saya
sangat tidak senang setelah mengetahui hal itu. Saya ingin kembali ke sekolah,
tetapi saya tidak mempunyai uang karena waktu berangkat saya meminjam uang ke
teman saya karena begitu semangatnya saya ingin masuk di prodi desain grafis. Jika
pulang saya juga harus meminjam uang ke teman saya, tetapi teman saya ingin
ikut tes masuk di prodi PGSD. Untuk tidak menyia-yiakan waktu, akhirnya saya
juga ikut tes wawancara masuk di prodi PGSD yang kebetulan bisa dikuti tanpa
harus membayar.
Setelah mengikuti tes, keesokan
harinya hasil tes wawancara itu diumumkan. Dan Puji Tuhan saya dinyatakan lulus
tes wawancara dan bisa melanjutkan ke tes selanjutnya yaitu tes tertulis. Dan
disitu untuk ikut tes tertulis, banyak persyaratan yang harus diselesaikan. Dan
jangka waktunya hanya 1 hari saja karena besok tes tertulis akan dilaksanakan.
Saya mengatakan ke teman saya yang lulus juga tes wawancara “tidak usah
dilanjutkan ini karena terlalu repot dan waktu yang kita miliki untuk
menyelesaikan proses itu sangat sedikit”, tetapi teman saya menjawab “Jos,
jangan sia-siakan kesempatan ini. Kau harus bersyukur karena sudah lolos.
Banyak orang yang ingin masuk, tetapi tidak lolos”. Setelah teman saya
mengatakan hal itu, akhirnya saya mulai sadar dan akan menyelesaikan semua
proses itu. Dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore saya menyelesaikan proses itu.
Pada malamnya saya sempat berbincang-bincang kepada teman saya yang bernama
Yemima lewat handphone, saya mengatakan kepada dia “Yemima, semoga diantara
kita ini ada yang lolos masuk di Universitas Kristen Petra. Saya sangat
berharap sekali, karena masuk di Universitas Kristen Petra ini adalah semacam
panggilan Tuhan. Dan saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang guru SD,
tetapi jika memang ini adalah rencana Tuhan dan panggilan Tuhan, maka saya akan
mengimani hal panggilan itu”, kemudian Yemima menjawab “iya Jos, berdoa saja
semoga Tuhan berikan yang terbaik buat kita”.
Keesokan harinya saya mengikut tes
tertulis di SMA Kristen Rantepao dengan kesiapan belajar yang sangat kurang.
Yang mengikuti tes tertulis ada 9 orang termasuk saya. Diantara 9 itu hanya
saya saja yang laki-laki. Ketika menghadapi soal-soal tes tertulis sebanyak 83
nomor, saya sangat mengalami kesusahan karena saya kurang menguasai bahasa
Inggris dan terdapat juga soal-soal yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.
Akhirnya dengan iman selama tes tertulis saya meminta pertolongan kepada Tuhan,
saya berharap Tuhan membantu saya. Lucunya selama tes tertulis saya menyanyi
lagu rohani. Seminggu kemudian hasil tes tertulis diumumkan, dan Puji Tuhan
dari antara 9 peserta itu yang lolos itu hanyalah saya. Saya seakan-akan tidak
percaya akan hal itu karena sebelumnya kesiapan saya mengikuti tes tertulis
sangat kurang. Saya sangat bersukur sekali kepada Tuhan, saya bisa lolos masuk
di Universitas Kristen Petra, universitas favorit saya, meski jurusan yang saya
tempati kurang saya minati.
Satu minggu setelah saya dinyatakan
lulus, saya mulai merenungkan tentang menjadi profesi seorang guru SD. Saya
bergumul kepada Tuhan apakah ini panggilan-Nya atau bukan. Saya berdoa kepada
Tuhan untuk mampukan saya memenuhi panggilan-Nya. Dan Puji Tuhan selama saya
bergumul kepada Tuhan, Tuhan mulai memerikan jawaban kepada saya, saya mulai
merasakan adanya kecintaan saya terhadap anak-anak dan mereka juga mulai
menyukai saya. Dan ada juga dukungan dari para hamba-hamba Tuhan dan
teman-teman saya. Dan di dalam kehidupan saya juga muncul suatu kesedihan
terhadap anak-anak yang tidak hidup di dalam Tuhan, bahkan anak-anak yang tidak
bersekolah.
Komentar
Posting Komentar